Tag Archives: politik

DIVESTASI FREEPORT BERMASALAH?

Tidak rela dengan pujian saya pada Jokowi, teman saya kemudian membrondong saya dengan berita-berita tentang ‘kebohongan’ rezim Jokowi dan pencitraan yang keterlaluan dari Jokowi dalam keberhasilan mengambil alih Freeport. “Kebohongan demi pencitraan yang keterlaluan…!” demikian tulisnya. Lalu dikirimnya artikel dari Dradjad Wibowo yang mengatakan bahwa pencitraan soal Freeport itu kelewatan bingit (judulnya memang alay karena pakai kata ‘bingit’) dan pendapat dari Hikmahanto Juwana yang menyatakan bahwa masih ada masalah hukum dengan divestasi tersebut. Gak rela dia rupanya kalau saya memuji Jokowi… 😄

Terus terang saya merasa sedih dan prihatin. Bukan…. Saya tidak sedih dan prihatin dengan proses divestasi yang bermasalah tersebut. Sebetulnya memang tidak ada yang mudah dalam upaya mendapatkan hak yang lebih layak dari pertambangan emas di Freeport tersebut. Kalau mudah mestinya presiden-presiden sebelumnya mau berusaha dan mungkin sudah berhasil melakukannya. Tapi faktanya kan memang hanya Jokowi yang mantan penjual mebel itu yang benar-benar mau bertarung dengan pemilik dan manajemen Freeport dengan semua dedengkot di belakangnya. Bayangkan ngerinya kalau kita diintimidasi bahwa kita akan menghadapi Uncle Sam kalau berani-berani nyenggol Freeport. Hanya Rusia dan China yang selama ini berani mokong dan head to head dengan AS. Dua kali kita punya presiden yang jendral tapi toh mereka, entah keder entah gak mau repot, tidak pernah mau bersungguh-sungguh untuk mendapatkan bagian yang lebih adil dari Freeport ini. Mending dipisuhi rakyat daripada nyenggol Freeport. 😄
Jadi kalau upaya untuk merebut bagian yang layak dari Freeport ini bermasalah ya sudah jelaslah. Kalau gak mau bermasalah ya ikuti saja jejak para presiden sebelumnya. Aman dan damai selamanya meski awakmu dipisuhi karo rakyat. 😄

Jadi cobalah melihat dari sisi ini. Jokowi yang dikata-katai dungu dan plonga plongo itu ternyata menyimpan nyali dan tekad baja untuk menggugat Freeport at all cost, apa pun resikonya, demi marwah dan kemakmuran bangsa Indonesia. Katanya Cak Luhut saham 51% itu ‘dead price’ alias harga mati. http://www.beritasatu.com/bisnis/448466-luhut-divestasi-51-persen-freeport-harga-mati.html
Aku sampek mrinding dengar Luhut bilang begitu. Temen tah, Hut, awakmu wani karo arek iku? 😯

Seandainya pun Jokowi gagal mendapatkan 51% saham Freeport karena besarnya hambatan dan masalah yang dihadapi saya akan tetap angkat topi pada beliau. Lha wong para jendral sebelumnya berusaha saja kagak, apalagi sampai berani ngomong ‘dead price-dead price’ segala. Terus terang selama mengikuti berita tentang upaya ‘merebut’ Freeport ini hati saya selalu diliputi dengan perasaan haru, bangga, dan syukur. Saya selalu berdoa dalam hati agar mereka semua diberi kekuatan, kesabaran, jalan keluar yang tidak disangka-sangka dalam upaya mereka mendapatkan Freeport ini. Insya Allah jika urusan Freeport ini beres maka akan banyak hal lain yang juga bisa kita bereskan di masa depan karena kita akan semakin percaya diri dan punya pengalaman dalam menghadapi negosiasi super alot seperti Freeport ini.

Tapi bagi orang-orang yang dihatinya ada kebencian pada Jokowi mungkin lain lagi. Mungkin mereka justru berharap agar Jokowi gagal dalam urusan Freeport ini sehingga mereka bisa bergendang paha dan punya alasan untuk semakin mengejek dan menghina Jokowi. Saya sedih dan prihatin pada teman dan orang-orang yang lebih suka memasukkan kedengkian dan kebencian dalam hatinya ketimbang rasa syukur dan empati pada perjuangan untuk bangsa ini.

Mbok ya sadar bahwa upaya merebut divestasi 51% Freeport itu adalah demi kepentingan bangsa dan negara bukan demi Jokowi, apalagi untuk Kaesang, Kahiyang, dan Gibran. Cukuplah mereka jualan martabak dan pisang goreng. Kalau hatimu tidak rela berdoa dan mendukung upaya Jokowi pada Freeport ini cukuplah jika engkau tidak menyebarkan sikap sinis berlebihan, apalagi kebencian, dalam postingmu. Apa perlu saya kirimi martabak dan pisang goreng via Go Food ke rumahmu untuk melumerkan kemarahanmu pada Jokowi? 😄

Surabaya, 14 Juli 2018

Fadli Zon: komunis sejati

Judul asli : Propaganda Politik.

( Politik )

Dia bukanlah orang biasa. Dia terpelajar dengan baik. Ia sarjana pada Program Studi Rusia, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) dan Master of Science (M.Sc) Development Studies dari The London School of Economics and Political Science (LSE) Inggris. Dia mendapatkan Gelar Doktor di Program Studi Sejarah FIB UI. Dia ( FZ)  juga aktif menjadi pengajar di almamaternya, FIB UI. Begitu tentang latar belakang pendidikanya. Dia juga dikenal sebagai pemerhati Komunisme Rusia dan dikenal mengidolakan pemikiran Karl Mark.

Kalau saya perhatikan cara cara dia dalam berpolitik, tak ubahnya dengan metodelogi yang diterapkan komunis untuk mencapai tujuan, Apa metodelogi dari komunis itu ? Pertama, menebarkan persepsi buruk terhadap pemerintah.  Dalam hal ini komunis punya cara hebat. Mereka menghindari perdebatan cara terpelajar. Mereka lebih suka mengangkat issue pribadi lawan politiknya, Contoh bagaimana Aidit Pimpinan PKI menyebut Soekarno sebagai presiden tukang kawin. Dan PKI membuat kebijakan melarang elite partainya kawin lagi. Ini semaca satire kepada Soekarno.

Kedua, PKI pandai menciptakan issue yang bisa memancing emosi rakyat agar membenci. Contoh dulu PKI mengangkat issue bahwa tokoh agama tidak peduli kepada rakyat kecil dan membiarkan mereka kelaparan. Tokoh agama tukang kawin. Memang ketika itu tokoh agama kebanyakan secara ekonomi diatas rata rata rakyat jelata. Targetnya adalah rakyat jelata yang secara nalar tak punya kemampuan berpikir luas , agar membenci tokoh agama dan dianggap sebagai antek feodal. Musuh kaum proletar.

Nah metodologi ini diterapkan melalui seni propaganda ala komunis dengan menggunakan gerakan hantu yang tak terlacak secara formal maupun informal ada hubungannya dengan Partai. Mereka melakukan propaganda sehingga  kepalsuan sulit di bedakan dengan kebenaran. Kepalsuan ( HOAX)  menjadi alat propaganda yang ditebar terus menerus sehingga orang menjadi percaya itu adalah kebenaran itu sendiri.  Ketika ada yang menyampaikan kebenaran maka justru orang itu dianggapnya palsu. Kepalsuan digunakan bukan hanya untuk membodohi rakyat tapi juga  sebagai upaya untuk melakukan fitnah dan pembunuhan karakter lawan. Biasanya, orang baik menjadi korban fitnah, supaya ia tidak menduduki posisi penting di masyarakat atau jatuh dari kekuasaannya. Dengan kepalsuan isu utama dapat di alihkan dengan mudah. Orang digiring untuk membicarakan hal-hal remeh, sementara hal-hal yang terkait dengan kehidupan bersama terbengkalai.

Dalam hal kekinian di Indonesia, FZ  sebagai corong Partai sangat menjiwai metodelogi Komunism dalam melahirkan revolusi. Lantas mengapa kepalsuan begitu mudah menjadi alat propaganda ? Dan mudah di terima orang banyak. FZ sangat paham sekali karena dia ahli kebudayaan dan pemerhati Komunis. Dalam konteks Indonesia kini,  ada dua bungkus yang biasanya digunakan untuk menutupi kepalsuan. Yang pertama adalah agama. Sepanjang sejarah, agama mengajarkan hal-hal luhur kepada umat manusia, supaya mereka bisa hidup di dalam kebahagiaan dan perdamaian satu sama lain. Karena daya pikatnya yang kuat, agama lalu jadi bungkus paling ampuh untuk menutupi kepalsuan. Ajaran-ajaran luhur agama digunakan untuk membenarkan kepentingan sesaat yang dilumuri kerakusan dan kebohongan.

Yang kedua adalah kepentingan nasional, atau kepentingan rakyat. Dalih ini sering digunakan untuk menutupi kepentingan-kepentingan busuk agendanya. Asing dan aseng mengemuka. Pribumi di idolakan. Ya sifat rasis di bungkus dengan nasionalisme. Padahal, rakyat itu banyak dan beragam. Kedua bungkus ini adalah bungkus-bungkus luhur yang dengan mudah ternodai, ketika bersentuhan dengan kepalsuan.  Kepalsuan menemukan air segar di tengah orang-orang yang dungu dan malas berpikir.  Satu hal yang FZ dan partainya lupa bahwa walau orang Indonesia kebanyakan pendidikan rendah namun secara budaya mereka terdidik. Jadi tidak sulit bagi mereka menentukan mana emas dan mana tembaga. Kepalsuan runtuh dihadapan orang orang yang punya akal sehat. 
Memang ada orang terpelajar namun tidak terdidik karena ia sudah terpapar racun radikalisme agama akibat propaganda ala komunisme. Dan itu jumlahnya sedikit sekali atau tidak lebih 5% dari populasi indonesia. Namun walau segelintir mereka sangat militan dan bisa jadi kayu bakar menciptakan api revolusi. Makanya mereka sadar bahwa mereka tidak akan bisa memenangkan pemilu Demokratis kecuali revolusi. Cara komunis dengan menebar kepalsuan dinilai mereka sebagai strategi yang efektif, entah dengan jargon agama atau nasionalisme, itulah yang kini sedang di lakukan FZ bersamaPartainya  beserta koalisinya, targetnya REVOLUSI.

Diskusi dng Babo

Dari https://www.facebook.com/dong.mon.3

Demokrasi itu mengakomodasi semua

Demokrasi itu..

Kalian boleh saja tidak mau dipimpin oleh orang yang tidak se-akidah dengan kalian, dan itu di lindungi undang².

Tapi kan kita tidak hidup sendiri saja di Dunia ini, ada banyak orang yang juga berpendapat sama dengan kalian, yang bertolak belakang.

Oleh karena itulah, Demokrasi harus tetep diperjuangkan. Demokrasi kita, Demokrasi Pancasila.

Nah, bilamana kamu bisa di sebut intoleran apabila kebebasan-mu dalam ber-Demokrasi, mengganggu Hak orang Lain.

Politik Luar Negri Amerika

Akhir-akhir ini Obama sering mendapat pertanyaan tentang kebijakan Amerika terhadap sekutu mereka, Arab Saudi yang bermain dalam menggerakkan terorisme Anti-Amerika.

Arab Saudi adalah negara penganut paham Wahabisme, yang anti syiah, dan menyulut konflik di timur tengah.

Amerika tidak pernah meng-kritik Saudi, ketika 15 orang berkebangsaan Arab Saudi terlibat peritiwa 9/11, bahkan Saudi sebagai penyandang dana pada konflik di Suriah, Irak, Afganistan dan Yaman, juga mendanai masjid-masjid dan madrasah yang beraliran radikal di sleuruh dunia.

Pada Bulan Agustus 2013, Obama menolak menyerang Suriah, adalah sebauh titik balik. Serangan itu sebenarnya diharapkan akan mengubah rejim yang berkuasa disana, yang tentunya akan menguntungkan Saudi.

(bersambung)

Erdogan, PKS & Jokowi

Yang menyanjung-nyanjung Erdogan kebanyakan adalah orang PKS, walau tidak bisa dibilang semua. Erdogan adalah pemimpin, di antara pemimpin negara lain. Ia punya prestasi yang baik, tapi tentu saja tidak sempurna. Kalau mai dilihat secara kritis ada banyak hal yang perlu diperbaiki. Intinya, ia pemimpin sebuah negara yang bukan negara kita. Tindak tanduknya menyesuaikan dengan kebutuhan negara dia, yang tentu saja tidak banyak sangkut pautnya dengan kita.

Turki adalah sebuah negara. Ia menjadi anggota NATO dan EU, punya hubungan dengan Israel, diam-diam memanfaatkan ISIS untuk menekan Suriah dan Kurdi. Itu semua diambil demi kepentingan politik. Kepentingan Islam? Islam setahu saya adalah salah satu elemen politik saja. Tidak ada politikus yang benar-benar menjadikan Islam sebagai elemen terpenting dalam berpolitik.

Tapi mengapa orang PKS begitu gandrung memuja Erdogan. Salah satu sebabnya karena mereka tidak punya tokoh internal yang bisa dipuja. Siapa tokoh PKS yang bisa dipuja? LHI tidak. Gatot? Sebelum dia tersangkut korupsi pun apa yang mau dibanggakan pada Gatot? Aher? Sudah bagus ia tidak tersangkut korupsi. Selebihnya, yang bisa dibanggakan paling seputar soal dia pandai dalam hal agama. Nurmachmudi, Hidayat, atau siapa lagi? Datar saja.

Fachri? Haduh.

Mereka jadi semakin konyol oleh nafsu untuk menjatuhkan Jokowi. Demi Jokowi mereka rela mengarang berbagai fitnah.

Begitulah. Membesar-besarkan Erdogan, membuatnya jadi macam malaikat. Memfitnah Jokowi seakan semua pangkal kejahatan ada di Jokowi. Keduanya dalam rangka memberi asupan gizi bagi jiwa yang sedang sakit. Heran juga saya orang-orang bisa sakit secara berjamaah macam gini.

by Hasanudin Abdurakhman