Sikui, adalah nama sebuah desa di kecamatan Muara Teweh, Kabupaten Barito Tengah, provinsi Kalimantan Tengah.

PT Paesa Pasindo Engineering (Paesa) sedang ada proyek peng-aspalan jalan disini.

Kantor administrasinya terletak persis di samping Kiri puskesmas Sikui. Kantor ini juga digunakan sebagai Laboratorium dan juga mess.

Dengan dibatasinya aliran listrik dari PLN, Paesa harus menyalakan Mesin Diesel selama hampir 24 jam. PLN hanya memberi pelayanan listrik pada jam² tertentu, yaitu dari jam 17.00 sampe jam 23.00 setiap harinya.

Workshop Asphalt Mixing Plant (AMP)

Dr kantor ke workshop AMP jaraknya sekitar 80 kilometer atau kira² 3 jam perjalanan jika menggunakan mobil. Karena 50% jalan masih kasar berupa perkerasan kapur & batu kerikil, dan ada yg sudah diaspal dan kondisinya bagus, setelah pertigaan 5 km terakhir, jalanan bagus sekali, aspalnya halus masih baru.

Sekitar jam 11.00 aku jalan naik motor di bonceng pak Mus (kasihan motor-nya, semoga baik² saja sampe ke kantor kembali) menuju kesana.  Tapi baru sampe di sekitar Gunung Penain, di sebuah Warung setempat, terpaksa harus berhenti untuk nunggu, untuk cari tebengan. Akhirnya aku nebeng truk tronton untuk bisa sampe ke tempat ini.

image
Jalan di tengah hutan

Sampe di lokasi, jam 16.00 persis. Harus nunggu pak Timsar (kepala proyek), karena bliau sedang meninjau lokasi, 10 menit dari sini.

Sekitar jam 17.30-an aku balik ke kantor nebeng truk tronton yang tadi lagi. Truk yang aku tumpangi bawa muatan aspal yang sudah di masak (mixing). Sopirnya bernama Lupus, orang madura, dia ngajak istrinya waktu itu. Dia cerita bahwa sepanjang jalan ini banyak sekali sodaranya (orang Madura). Bahkan dia sempet berhenti selama hampir 30 menit, untuk sekedar ngobrol².

Di tengah jalan sekitar gunung penain juga, ada mobil tangki yang terjebak lumpur. Karena kondisi cuaca malam itu gerimis, yang membuat jalanan yang masih berupa tanah itu jadi basah dan licin. Ada sekitar 6 Truk kecil dan 2 mobil SUV sudah parkir di depan kami. Saat itu sudah jam 21.00, para sopir mulai resah, mereka gak mau nginap disini. Akhirnya mereka sepakat untuk lewat jalan yang baru di beton si sisi sebelah mobil yg terjebak tadi, padahal oleh kontraktornya blm dibuka untuk dilewati mobil. 4 truk pertama dan 2 SUV berhasil lewat, Lupus pun ngikutin mereka, padahal truk yg dia bawa itu tronton, lebih lebar dibanding yg lain.

Jalanan licin dan menurun sebelum kami sampe pada bagian jalan yg di beton. Tadi aku sempat lihat beberapa truk sampe posisinya menyilang, karena sopirnya tidak bisa menguasai arah truk supaya tetap lurus, licin cuy. Tapi sopir-ku ini jago banget, SUMPAH !  harus aku akui, salut.

Akhirnya tronton kami naik juga ke jalan beton, dengan posisi ban ngepres banget mepet pinggiran jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: