Banjirnya Jakarta adalah Lokal Wisdom

Kata banyak orang yang ngerti Sejarah Jakarta, Jakarta itu sudah banjir bahkan sejak jaman VOC sekitar tahun 1600-an. Bahkan Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen -pun nggak mampu menanggulangi bencana banjir saat itu.

Capture banjir jakarta.PNG

Nah, sebagai warga pendatang di Jakarta (yang berdomisili di Bekasi :p ), gue merasa bahwa “Kebanjiran” di Jakarta (dan juga Bekasi dan sekitarnya) ini merupakan suatu tradisi turun-temurun – kearifan lokal (Local Wisdom), yang sudah sangat jarang ada. Maksud gue, tradisi “Kebanjiran” ini mulai ada sejarahnya sejak 1600-an sampai dengan saat ini – tahun 2020, masih bisa kita rasakan/alami, bahkan ada budayawan setempat yang seolah-olah sampai terlanjur menikmatinya seperti sebuah kebanggaan.

Teryata, siapapun yang menjadi pemimpinnya, mau itu VOC kek, Jokowi kek, Ahok kek, apalagi Anies Baswedan, sudah bisa gue pastikan nggak akan mampu menghapus tradisi ini dari Jakarta :-p .

Jadi kepikiran nih,

Jangan-jangan karena tradisi ini-lah akhirnya Anies Baswedan (ABas) mempunyai gagasan Naturalisasi sebagai program solusi banjir Jakarta. Konsep Naturalisasi mungkin ya … yaitu dengan membiarkan sungai-sungai apa adanya, air mengalir secara alamiah, dan bantaran kali-nya terbentuk secara alami pula. Mungkin seperti itu, entahlah gue cuma bisa mengira-ira, karena memang program ini belum ada bentukannya.

Berbeda dengan konsep Normalisasi-nya Gubernur terdahulu yang secara fisik bisa kita sebut sebagai Betonisasi. ABas menganggap betonisasi melawan Sunatullah (hukum alam). Menurutnya, air turun dari langit ke bumi, bukan ke laut, harusnya dimasukkan ke tanah, ke bumi. Di seluruh dunia air jatuh dimasukkan ke tanah. Bukan dialirkan ke gorong-gorong ke laut.

Sebagai penutup, ketika warga pribuminya saja tidak keberatan dengan “Kebanjiran”, siapalah saya yang cuma numpang cari makan disini.

Jakarta, 04 Januari 2020

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.