- Amanah
- Prinsip 90 - 10
- Ciptakan Nilai Tambah
- Empati Tidak Memilih
- Etos Rahmat
- Hari Yang Lebih Baik
- Perlombaan di Ufuk Mentari
- Tekad
- Citra Diri dan Cara Memandang
Ada sebuah dongeng yang menceritakan tentang seorang anak gembala yang menjaga ternak titpan tetangga-tetangganya. Awalnya memang dia bekerja dengan semangat dan bertanggung-jawab tapi lama-lama, dia mulai bosan. Alih-alih melakukan tugasnya dengan benar, dia iseng dengan berteriak "Harimau! Selamatkan kerbau masing-masing". Akibatnya para pemilik ternak bangkit dengan cangkul dan benda tajam apa saja untuk membantu gembala mengusir harimau.
Tetapi, ternyata tidak ada harimau! Sekali.. dua kali... dia melakukan hal yang sama sampai kejadian untuk yang ketiga kalinya, ketika harimau benar-benar datang, tidak ada yang menolongnya dan ia habis dicabik-cabik harimau.
Key Learning Point:
Pekerjaan yang sudah diamanahkan harus dijalankan dengan baik dan ditunaikan dengan sungguh-sungguh. Sikap tidak bertanggung jawab, tidak profesional dapat berujung bencana. Betapa kecil pun itu, kita harus mengerjakan dengan sungguh-sungguh dan tanggung jawab.
Action Steps:
Ayo kita mulai hari ini dengan mengingat bahwa kerja itu adalah amanah yang harus kita tunaikan dengan benar dan sepenuh tanggung jawab.
Back to top (kembali nge-top)
Sadar atau tidak, 10% dari hidup kita adalah hal yang tidak bisa dihindari. 90%-nya merupakan hasil dari bagaimana kita bereaksi terhadap yang 10% tersebut.
Misalnya, saat makan pagi, anak kita menyenggol gelaskopi dan tumpah ke kemeja kita. Itu merupakan bagian dari 10%, hal yang tak bisa dihindari. Yang terjadi selanjutnya adalah 90%-nya : reaksi kita.
Kita marah-marah. Anak kita menangis. Kita memarahi pasangan kita karena menaruh gelas tadi di pinggir meja kemudian kita tergesa-gesa mengganti baju kerja. Setelah selesai, si anak yang sedang menangis berusaha menghabiskan makan paginya. Bis sekolahnya sudah jalan, tidak terkejar lagi. kita harus mengantarkannya ke sekolah. Memacu mobil dengan sangat cepat karena tak mau terlambat, akhirnya kita terkena tilang. Setelah telat 20 menit, kita baru sadar file penting tertinggal. Uh! Awal hari yang buruk, mungkin itu kesimpulan kita. Sore harinya setelah pulang rumah, perasaan juga tidak tentram karena masih ada sisa luka kemarahan pagi tadi, baik dengan pasangan maupun anak kita.
Mengapa? Apakah karena anak kita menumpahkan kopi? Letak gelas yang salah? Karena tilang? Atau karena bagaimana kita bereaksi?
Kalau kita putar ulang, itu semua karena: reaksi kita kala menanggapi kejadian pagi tadi.
Bagaimana jika reaksi kita seperti ini :
Saat kopi itu tumpah, dan anak kita merasa bersalah dan sudah hampir menangis, kita dapat berkata dengan baik-baik "O, nggak papa. Tapi lain kali hati-hati ya". Ganti baju, siapkan file yang perlu dibawa, lambaikan tangan saat anak kita naik bis sekolahnya. Sampai di kantor tidak terlambat dan mood kita juga baik.
Key Learning Point:
Lihat bedanya? 2 akhir cerita yang berbeda padahal awalnya sama.
Mengapa? Ingat 90% tadi, yaitu: bagaimana rekasi kita.
Action Steps:
Bereaksilah dengan tepat. Reaksi yang salah membuat masalah menjadi bertambah panjang dan menyangkut banyak orang.
Belajarlah untuk mengingat prisip 90-10.
Back to top (kembali nge-top)
Keahlian tidak bersifat instan dan tidak terikat gelar pendidikan. Keahlian justru dimatangkan
dari pengalaman di lapangan, dari persoalan yang muncul, atau dari kesalahan yang dibuat.
Kita perlu membungkusnya agar keahlian ini bisa "mengendap", "muncul", dan "membawa
perubahan" dalam pemecahan masalah kita.
Prinsipnya, jangan hanya bisa mengerjakan sesuatu, tetapi jadilah solusi yang memiiki gaya
khas!
Hanya dengan nilai tambah yang signifikan, profesionalisme kita menjadi luar biasa.
Key Learning Point:
Untuk menjadi pintar kita butuh banyak belajar, tapi untuk menjadi ahli, kita butuh lebih banyak
pengalaman, dan semakin banyak kesalahan yang kita perbuat, maka semakin banyak
pembelajaran yang kita dapatkan. Memperbaiki kesalahan akan menjadikan kita selalu ingat
akan solusinya, alhasil kita akan semakin ahli dalam hal tersebut.
Action Steps:
Jangan takut melakukan kesalahan, tetapi juga jangan sengaja membuat kesalahan, apalagi
melakukan kesalahan berulang-ulang. Cari solusi dari setiap keslahan yang diperbuat, belajarlah
dari kesalahan sendiri dan orang lain. Setiap ingin mengerjakan sesuatu, cari tau apa tujuan dan
manfaat mengerjakan hal tersebut. Dan jadilah pembawa solusi bagi kita semua.
Back to top (kembali nge-top)
Sewaktu kecil, Ibu pernah berkata "Kamu mesti belajar menghargai semua orang, bahkan yang
kelihatannya kurang penting bagi kamu. Kalau sampai kamu mempunyai kebiasaan itu, baru
kamu bisa disebut sebagai orang yang ramah".
Empati memang tidak boleh dipraktikkan secara memilih-milih. Kita tidak bisa hanya mau
berempati pada orang yang kita anggap penting, misalnya pelanggan besar yang sedang kita
layani. Sementara kita mengacuhkan tukang parkir yang mengucapkan selamat pagi kepada
kita.
Key Learning Point:
Pribadi kita baru terasa hangat dan tajam bila empati menjadi warna, pendekatan, dan
kebiasaan pribadi.
Action Steps:
Berusahalah untuk lebih mengenal orang-orang disekitar kita, tandai sifat-sifat baik mereka,
pikirkan kalau kita berada dalam posisi mereka. Kalau perlu, berikan saran dan solusi atas
permasalahan yang sedang mereka hadapi.
Back to top (kembali nge-top)
Ingatkah, saat kecil, kita dengan rajin mengeksplorasi dunia sekeliling: berani memegang api,
gagah memegang moncong anjing, nekat melompat-lompat tinggi, percaya diri membongkar
peralatan elektronik, perkasa menjungkir balikkan kotak mainan, dan tidak takut main air dan
lumpur.
Ya, kita meng-eksplor apa saja di sekitar kita untukl mencari pengalaman dan belajar. Kita
jatuh bangun, tapi tidak kapok. Kita meringis dan menangis, tapi sebentar bercanda dan
tertawa. Semua sangat penting karena itu menjadikan kita bertumbuh.
Key Learning Point:
Kegagalan kadang membuat kita jadi kehilangan daya hidup. Saat waktu berganti, pengalaman
itu seharusnya tidak boleh mematikan inisiatif, kreativitas dan daya juang kita. Rahmat,
mengajarkan bahwa hidup adalah berkah baik itu manis atau pahit. Di balik yang pahit ada
rahmat terselubung.
Action Steps:
Bijaklah untuk memandang masa lalu sebagai pelajaran dan tetap fokus dan bersemangat ke
depan.
Back to top (kembali nge-top)
Hiduplah sekarang dan jalani hidup setiap hari seakan-akan inilah hari terakhir kita. Buatlah tiap hari menjadi hari yang baru. Kita tidak bisa mengubah kemarin. Besok mungkin tiada lagi. sekaranglah waktu kita!
Setiap hari baru adalah anugrah. Buat tiap hari menjadi petualangan baru. Saat bangun di pagi hari, bangun dengan harapan terhadap hal-halhal baik yang akan datang kepada kita hari ini. Bila membiasakan diri mengharapkan hal baik, biasanya hal-halhal baik itu akan terjadi.
Apakah yang akan terjadi kalau kita hidup di hari ini dan berusaha membuat setiap hari menjadi lebih baik untuk dijalani? Kita mulai hidup terarah ke depan. Kita menjadi positif dan cenderung mengembangkan yang terbaik pada diri kita.
Key Learning Point:
Jangan sesali yang kemarin sudah terjadi dan jangan khawatirkan hari esok. Kita punya hari ini dan buatlah hari ini berarti.
Action Steps:
Mari kita membuat hari ini menjadi lebih baik dari hari kemarin!
Back to top (kembali nge-top)
Setiap hari mengawali pagi, seekor rusa bangun. Tahu bahwa ia harus berlari lebih cepat dari
seekor singa yang tercepat, atau ia akan terbunuh.
Setiap pagi seekor singan bangun. Tahu bahwa ia harus mencari rusa yang paling lambat, atau ia
akan mati kelaparan.
Tidak masalah apakah kita adalah seekor singa atau seekor rusa, ketika matahari terbit, lebih
baik kau mulai berlari.
Key Learning Point:
Seperti kata pepatah "rejeki di mulai dari pagi hari", artinya setiap hal harus dimulai dari
sekarang, jika kita bangun kesianga hari yang kita miliki akan semakin pendek, kesempatan
menggapai kesuksesan akan semakin pendek pula.
Action Steps:
Kesempatan belum tentu datang dua kali, maka mulai detik ini, awali hari demi hari dengan
semangat, jangan menundanya dan jangan biarkan kesuksesan hari ini berlalu begitu saja.
Back to top (kembali nge-top)
Ketika mengendarai mobil tuanya ke luar kota, seorang pemuda mulai was-was kala mobilnya
mulai batuk-batuk dan akhirnya, mogok. Beruntung muncul penolong.
"mesin mobil saya mati!" serunya sambil menurunkan kaca jendela mobil. Orang tidak dikenal
itu melangkah ke depan mobil dan membuka tutup mesin, mengulurkan tanganya dan entah apa
yang dilakukannya, tidak lama kemudian dia memberi isyarat agar memutar kunci kontak. Dan,
mesin mobil hidup!
Orang tidak dikenal itu berkata, "Setiap mobil paling sedikit akan hidup sekali lagi bila diberi
perhatian yang semestinya."
Orang asing itu melanjutkan perkatannya: "Prinsip yang sama juga berlaku bagi manusia. Selama
masih ada sedikit percikan api, belum terlambat bagi seorang manusia untuk membuat awal
yang baru.
Key Learning Point:
Begitu penting sebuah percikan api untuk bisa menghidupkan mobil, demikian pula di dalam
kehidupan manusia, percikan api bisa diartikan sebagai semangat, hasrat, niat atau tekad. Tiada
kata terlambat untuk memulai sebuah awal yang baru! Kebangkitan baru! Dan menciptakan
kesuksesan baru!
Action Steps:
Ayo nyalakan "api" di dalam diri kita!
Back to top (kembali nge-top)
Di Jepang, kita mengenal Bonsai, pohon indah yang tingginya hanya dalam hitungan sentimeter.
Ketika tumbuh tunas, orang Jepang mencabutnya dan mengkat pokok akar dan sebagian
cabang akarnya, dengan demikian secara sengaja menghambat pertumbuhannya.
Di Amerika, ada pohon Sequoia. Biji pohon ini jatuh ke tanah dan dibiarkan tumbuh subur
dengan air dan matahari serta gizi dari mineral. Begitu suburnya sehingga ia tumbuh menjadi
sangat besar. Jika ditebang, kayunya bisa digunakan membangun 35 rumah dengan masing-
masing-masing-masing 5 kamar.
Pada dasarnya, semuanya sama-sama berawal dari biji, yang beratnya kurang dari 1 miligram.
Setelah keduanya dewasa, terjadi perbedaan ukuran yang luar biasa. Keduanya tidak
mempunyai hakuntuk menentukan nasib. Tidak demikian halnya dengan manusia, kita punya hak
untuk menentukan nasib. Kita bisa jadi besar atau kecil sebagaimana yang kita kehendaki. Kita
bisa jadi si bonsai atau raksasa.
Key Learning Point:
Citra diri dan cara memandang diri sendiri akan menentukan menjadi apa kita. Untuk itu kita
punya pilihan.
Action Steps:
Tentukan pilihan kita dan melangkahlah menuju arah pencapaiannya.
Back to top (kembali nge-top)
0
Comment(s)